Selamat Datang di chit2chat. ayo chit chat bareng buat namabah wawasan dan pengetahuan juga teman-teman yang asik. AYO buruan DAFTAR!!!Enjoy the Chiting...


    psikomatis

    Share

    mimin
    Admin

    Jumlah posting : 88
    Join date : 16.07.09
    Age : 27
    Lokasi : Medan

    psikomatis

    Post  mimin on Mon Jul 27, 2009 8:01 am

    Pada bulan tertentu, khususnya dalam masa pergantian cuaca, begitu banyak orang memenuhi tempat praktik dokter. Yang paling banyak diderita pasien adalah seputar gejala flu: demam, radang tenggorokan, batuk, pilek.

    Untuk penyakit-penyakit massal musiman seperti itu kita tidak perlu terlalu khawatir karena penyebabnya cukup jelas, yakni perubahan cuaca. Dengan menjaga stamina dan minum obat yang diberikan oleh dokter, kita dapat kembali sehat. Lain halnya dengan penyakit tertentu seperti tekanan darah tinggi, jantung, asma, eksim, maag, diabetes, dan sebagainya, diderita banyak orang tanpa kenal cuaca.

    Meski banyak hal yang mungkin menjadi penyebab (pola makan, faktor keturunan, dsb), pada umumnya sangat erat berkaitan dengan keadaan stres, konflik batin, atau ketidakpuasan pada penderita. Kita tahu sakit fisik yang berkaitan erat dengan keadaan psikis ini disebut psikosomatis.

    Fisik dan Psikis
    Fenomena psikosomatis menunjukkan dua aspek dalam diri manusia, fisik dan psikis, memang berkaitan erat. Keadaan psikis yang terganggu menyebabkan timbulnya gangguan fisik, muncul sebagai gejala psikosomatis.
    Sebaliknya, kita juga mengerti bahwa keadaan fisik juga memengaruhi keadaan psikis. Contohnya, dalam keadaan mengalami nyeri karena patah tulang atau sakit gigi, seseorang dapat menjadi mudah marah dan merasa sangat menderita.

    Pengetahuan dan kesadaran mengenai adanya hubungan timbal balik antara fisik dan psikis ini merupakan hal yang penting dalam usaha penyembuhan penyakit, terlebih-lebih pada keadaan psikosomatis ini.
    Bila hal ini tidak disadari, penderita maupun penyembuh hanya akan berfokus pada aspek fisik. Akibatnya penyebab psikis tidak tertangani dan tetap akan menggejala entah sampai kapan.

    Bagaimana memahami pengaruh keadaan psikis terhadap fisik tersebut? Secara sederhana kita dapat mempelajari dari pengalaman pribadi. Pada saat menghadapi situasi darurat, misalnya kebanjiran, biasanya kita merasa panik.

    Dalam keadaan tersebut kita termotivasi mengambil tindakan secara cepat untuk menyelamatkan barang berharga, mematikan listrik, dsb. Dalam keadaan demikian, jantung berdebar lebih kencang, tekanan darah lebih cepat, otot-otot lebih siaga.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa keadaan emosi (berkaitan erat dengan motivasi) berpengaruh terhadap kerja sistem saraf kita yang disebut sistem saraf otonom. Sistem saraf ini berfungsi mengendalikan berbagai organ tubuh kita yang sangat vital seperti detak jantung, tekanan darah, tegangan otot, sekresi gula darah dari pankreas, suhu badan, dan lain-lain.

    Itulah sebabnya, bila kita dalam keadaan stres, mengalami rasa kecewa yang serius dan sebagainya, sistem saraf otonom bereaksi seperti digambarkan di atas. Bila keadaan stres berkepanjangan, dapat dibayangkan keadaan tubuh terus-menerus dalam keadaan tidak seimbang, sehingga berkembang gejala gangguan fisik.

    Lain halnya bila kita dalam keadaan rileks, sistem saraf otonom kembali berfungsi secara normal, menjaga organ-organ tubuh dalam keadaan seimbang (homeostatis). Dalam keadaan demikian kita merasakan tubuh dalam keadaan nyaman. Itulah sebabnya sungguh penting untuk menjaga agar pikiran dan emosi kita dalam keadaan tenang, apa pun yang sedang kita hadapi.

    Kesadaran Akan Masalah
    Jelas bahwa keadaan psikis yang tertekan dan dalam keadaan tidak bahagia dapat memicu timbulnya gangguan fisik, psikosomatis. Untuk memulihkan kesehatan penderita psikosomatis tidak cukup bila hanya dilakukan pendekatan medis. Persoalan psikologis yang menjadi penyebab tentu juga harus diatasi.

    Sayang sekali banyak di antara kita kurang menyadari ketika ada penyebab psikis yang memicu gangguan fisik yang dialami. Ketika orang lain mengingatkan akan adanya faktor pikiran, banyak orang cenderung menolak kemungkinan tersebut.

    “Pikiran apa ya? Saya kan enggak punya masalah apa-apa……”, itu mungkin yang telontar. Padahal, indikator adanya penyebab psikis kadang-kadang cukup jelas dari ekspresi wajah atau perilaku kita.

    Banyak di antara kita yang cenderung tidak ingin melihat diri sendiri dalam keadaan lemah, kurang mampu mengatasi masalah. Tampaknya lebih nyaman untuk menilai bahwa gangguan kesehatan yang kita alami adalah karena kelelahan, karena salah makan, dan sejenisnya. Namun, bila kita buta mengenai keadaan diri kita sendiri, tentu saja tidak akan dapat mengatasi persoalan secara tepat.

    Di sisi lain, sebagian orang mengakui dirinya memiliki persoalan psikis (stres, kecewa, konflik), tetapi cenderung melihat bahwa persoalan tersebut disebabkan orang lain atau keadaan yang tak dapat diatasi.
    Dalam keadaan demikian kita tidak melihat kemungkinan penyebab dalam diri kita sendiri dan tidak akan melihat alternatif penyelesaian dari dalam diri sendiri.

    Padahal, sebenarnya banyak persoalan dapat diatasi, justru bila kita dapat menemukan akar masalahnya di dalam diri kita sendiri dan mampu menemukan alternatif pemecahan dimulai dari diri kita sendiri.
    Banyak orang berobat hanya agar terbebas dari gejala penyakit yang dirasakan, bukan agar benar-benar sembuh. Ada yang datang berobat untuk menunjukkan bahwa sudah berusaha, sudah mendatangi ahlinya, mencoba beberapa metode.

    Meski kurang enak untuk didengar, kenyataannya bahkan ada orang yang datang berobat hanya untuk membuktikan bahwa penyakitnya parah, tidak ada yang dapat menyembuhkan.

    Salah satu contoh, seorang bapak mengatakan, “Gula darah saya peringkat satu di Jakarta. Saya sudah ke mana-mana, tetapi hasilnya sama saja”. Keadaan ini menunjukkan tidak banyak orang yang dapat melepaskan diri dari pengondisian, kelekatan, dan ilusi.

    Kita sudah terbiasa dengan keadaan yang selama ini kita jalani, dan ini membuat sulit membangun kebiasaan baru. Inilah yang dimaksud dengan pengondisian.

    Contohnya, seseorang yang terbiasa memiliki pola reaksi keras dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya, akan merasa tidak mungkin mengubah kebiasaan tersebut sekalipun dokter menyarankan demi kesehatannya.

    Orang tersebut merasa pola reaksi yang keras itu adalah bagian dari karakternya. Karena pola reaksinya dianggap sebagai hal biasa, lebih mudah menyimpulkan bahwa tekanan darah tinggi dan diabetes yang dideritanya adalah karena penyebab lain di luar keadaan psikisnya.
    Contoh di atas jelas menunjukkan adanya pengondisian, kelekatan, dan ilusi. Keadaan terkondisi cenderung melahirkan kelekatan, dan kelekatan melahirkan ilusi.

    Kita merasa tidak dapat melepaskan diri dari pola persepsi, pola emosi, dan pola reaksi yang telah berkembang dalam diri kita. Kelekatan seperti itu membuat sulit melihat kenyataan apa adanya. Kita telah mengembangkan pemahaman yang salah, berarti telah mengembangkan ilusi.

    Masih banyak lagi kemungkinan kita mengalami kelekatan dan ilusi. Antara lain kelekatan pada harta benda, melahirkan ilusi seolah kita hanya akan sehat dan bahagia bila berkelimpahan kekayaan.

    Bila kita mengalami persoalan dengan kekayaan, keadaan emosi terguncang, akibatnya keadaan fisik ikut terguncang penyakit. Kesembuhan total dari penyakit fisik maupun psikis sebenarnya mensyaratkan pemahaman yang benar dan utuh mengenai keadaan diri sendiri serta kehendak kuat untuk dapat membongkar pola persepsi dan pola keyakinan salah yang menyebabkan gangguan emosi

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 7:12 pm