Selamat Datang di chit2chat. ayo chit chat bareng buat namabah wawasan dan pengetahuan juga teman-teman yang asik. AYO buruan DAFTAR!!!Enjoy the Chiting...


    kesenjangan

    Share

    mimin
    Admin

    Jumlah posting : 88
    Join date : 16.07.09
    Age : 27
    Lokasi : Medan

    kesenjangan

    Post  mimin on Mon Jul 27, 2009 7:45 am

    Kesenjangan
    Sepanjang masa Orde Baru kita telah mengalami pemerintahan yang otoriter. Keadaan ini mendorong perkembangan pribadi-pribadi menjadi tergantung: tidak mandiri, kekurangan inisiatif, tidak berani bertindak berdasarkan kekuatan sendiri.

    Dengan pilihan menjadi masyarakat industri, kita sekaligus menganut sistem kapitalis. Tampaknya dalam perkembangan hingga saat ini dua hal tersebut telah mengakibatkan berbagai persoalan yang sangat kronis.
    Pertama, terjadi kesenjangan mendalam antarkelompok masyarakat. Mereka yang mengendalikan modal dan produksi terus berpeluang untuk mengembangkan ekonomi.

    Selepas masa Orde Baru, ketika keadaan lebih bebas, kolusi antara pemilik modal dan penguasa semakin meluas. Hal ini membuat di sana-sini tampak kehidupan glamor, yang penuh daya dan penuh kuasa.

    Sementara, sebagian besar anggota masyarakat lainnya tetap dalam keadaan tergantung dan semakin merasa tidak berdaya. Bagaimana tidak? Mereka dibombardir dengan produk-produk modern yang mewah tetapi kurang memiliki daya beli, sementara biaya hidup semakin tinggi.
    Keadaan tersebut tampak dari kenyataan meluasnya kemiskinan di tengah lingkungan yang dibangun untuk memenuhi hasrat hedonistik (mengejar kenikmatan). Kelaparan, penyakit, dan ketiadaan akses pendidikan, menggejala di tengah kehidupan lain yang serba berkelimpahan.

    Keadaan tersebut menimbulkan frustrasi pada individu-individu yang “tenggelam” dalam beban hidup yang berat. Menurut Berkowitz dkk, frustrasi sangat mungkin melahirkan agresi. Situasi semacam ini ikut melatari beberapa kasus bunuh diri yang disebabkan oleh kemiskinan.

    Keterasingan>/b>
    Keadaan kronis yang kedua adalah terjadinya alienasi (keterasingan). Hal ini berkaitan dengan kapitalisme modern saat ini yang sangat diwarnai otomatisasi dan menghasilkan dehumanisasi. Pekerjaan manusia telah banyak digantikan oleh komputer atau mesin-mesin otomatis lainnya.

    Relasi-relasi antarmanusia yang semula terbangun melalui pekerjaan maupun aktivitas lain (termasuk mengisi waktu luang) semakin berkurang dengan hadirnya produk-produk elektronik seperti komputer, televisi, dll. Produk-produk tersebut menyediakan informasi dan hiburan menarik, siap menyita perhatian manusia.

    Kegemaran memanfaatkan media tersebut secara berlebihan, membuat manusia terasing dengan orang-orang lain. Padahal ini telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kita saat ini, bahkan sejak kanak-kanak.

    Jadi, bila dalam masyarakat tradisional relasi antarindividu terjalin erat disertai kepekaan akan kebutuhan pihak lain, dunia modern dengan otomatisasi dan dehumanisasi sungguh telah menghasilkan keterasingan individu dari orang-orang lain dan dunia sekitarnya.

    Benda-benda produksi dan konsumsi telah menempati ruangan besar dalam bilik-bilik jiwa manusia. Kapitalisme modern telah menawarkan apa saja yang menjadi kesenangan orang-orang, bahkan membujuk orang-orang untuk segera memuaskan berbagai kebutuhannya. Hal ini tampak dari fasilitas-fasilitas kredit yang ditawarkan oleh para produsen maupun lembaga-lembaga keuangan.

    Sistem kapitalis modern telah melahirkan manusia-manusia yang tidak sanggup menunda pemuasan kebutuhan. Orang merasa tidak berharga ketika tidak mampu memiliki berbagai benda yang diinginkan, dan menjadi mudah frustrasi bila tidak berhasil mendapatkan kesenangan-kesenangannya dengan segera.

    Bahkan, diri sendiri maupun orang-orang lain, dan juga kehidupan di sekitarnya lebih dipandang sebagai komoditas yang dapat dijual. Akibatnya, kehidupan menjadi kehilangan makna. Spiritualitas semakin tersingkir.

    Erich Fromm menyebut keadaan masyarakat seperti ini menghasilkan pribadi-pribadi seperti robot, yang tidak berkemampuan untuk mencintai dan mengembangkan potensi-potensinya.

    Penyesuaian Diri
    Penyesuaian diri individu dalam masyarakat sangat terkait dengan sistem di dalam masyarakat tersebut. Menurut Erich Fromm, masyarakat yang sehat menyumbang terwujudnya kepribadian sehat, yang mampu menyesuaikan diri. Kepribadian sehat memiliki ciri produktif: punya kemampuan untuk mencintai dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

    Sungguh sayang, hingga saat ini keadaan belum menunjukkan tanda-tanda bahwa masyarakat kita bergerak ke arah lebih sehat, yang memberikan penghargaan tinggi kepada manusia dan kehidupan. Penghargaan tinggi kepada diri sendiri maupun orang lain diberikan hanya bila berhasil memiliki kedudukan dan penghasilan tinggi (daya beli tinggi, penampilan glamor).

    Proses mencapai kedudukan dan penghasilan tinggi, yang semestinya dilandasi pertimbangan moral (etis) tidak lagi dilakukan karena dorongan untuk segera memuaskan keinginan. Tak ada lagi kemampuan untuk mencintai kehidupan. Tak ada lagi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah.

    Tampaknya inilah yang melatari mengapa Briptu HC menembak mati atasannya sendiri. Mutasi ke kota kecil seperti Kendal, mungkin langsung mematahkan harapannya yang sangat tinggi akan akses ekonomi atau lainnya, sehingga ia begitu frustrasi. Satu hal telah dilupakan, yakni pentingnya menghargai diri sendiri, orang lain, dan kehidupan sebagaimana adanya.

    Apa yang terjadi dalam kasus bunuh diri ibu M bersama empat anaknya tampak berbeda dengan kasus pembunuhan di atas, meski pada dasarnya sama-sama dilatari oleh rasa frustrasi berat.

    Anak menderita kelainan darah, kesulitan ekonomi, dan suami tidak kunjung pulang, mungkin membuatnya merasa gagal. Ia tidak melihat kemungkinan mengembangkan potensi yang dimiliki untuk mengatasi persoalan hidup. Ia juga telah kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan, mungkin karena merasa ditinggalkan oleh suami.

    Sangat disayangkan kasus-kasus semacam ini telah beberapa kali terjadi (Kompas, 12 Maret 2007). Ini merupakan pertanda bahwa sistem masyarakat ikut mendorong perkembangan kepribadian yang robotik, yang tidak mampu mencintai kehidupan dan tidak mampu mengembangkan potensi-potensinya.

    Harapan
    Kita layak prihatin dengan kondisi masyarakat saat ini. Begitu mudah mengorbankan nyawa orang lain atau diri sendiri. Belum lagi banyaknya kecelakaan transportasi, banjir, lumpur Lapindo, dll, semuanya menunjukkan tindakan sembrono yang mengabaikan keselamatan jiwa manusia, demi mengejar uang. Lagi-lagi kapital telah memperbudak kita.

    Bagaimanapun, kita tidak boleh berhenti berharap akan kehidupan yang lebih baik. Kita layak mengharapkan, membayangkan kehidupan yang manusiawi, di mana manusia sungguh-sungguh dihargai keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang bermartabat paling tinggi. Bukan lagi kapital yang dijunjung tinggi.

    Kita layak berharap pemerintah mengembangkan misi yang pro pada kehidupan. Pendidikan, kesehatan, serta keselamatan dan kesejahteraan masyarakat (dengan wawasan kelestarian lingkungan, tidak berpihak pada pemilik modal) harus menjadi prioritas.

    Kita pun masing-masing layak berharap mampu mengembangkan diri menjadi pribadi-pribadi mandiri dalam mengembangkan potensi dan mencintai kehidupan. Tidak lain kuncinya adalah spiritualitas: membangun perasaan keterhubungan dengan Sang Pencipta, dengan orang-orang lain, dan alam sekitar. Hanya dengan itu kita akan menemukan makna dan kecintaan pada kehidupan

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 7:13 pm