Selamat Datang di chit2chat. ayo chit chat bareng buat namabah wawasan dan pengetahuan juga teman-teman yang asik. AYO buruan DAFTAR!!!Enjoy the Chiting...


    pendekatan berbasis psikologis

    Share

    mimin
    Admin

    Jumlah posting : 88
    Join date : 16.07.09
    Age : 27
    Lokasi : Medan

    pendekatan berbasis psikologis

    Post  mimin on Mon Jul 27, 2009 7:42 am

    Secara lebih lengkap pengalaman religius dapat diartikan sebagai pengetahuan manusia akan ”Sesuatu” yang ada di luar dirinya, melebihi dan mengatasi dirinya, Yang Transenden, Yang Ilahi, yang diperoleh langsung dari hubungan sadar antara diri seseorang dengan ”Sesuatu” yang melebihi dirinya (Hardjana, 2005).

    Pengalaman religius berkembang dari kehidupan beragama. Bila penghayatan akan agama berkembang sedemikian autentik, mendalam, dan mendatangkan dampak dalam kehidupan, disebut spiritualitas. Belajar dari Anthony de Mello kita dapat menemukan gambaran bagaimana kesadaran akan Allah yang terus-menerus dihayati akan membawa perubahan pribadi ke arah yang semakin luhur.

    Begitu luhur bila kita dapat berkembang seperti de Mello. Namun, kita perlu bertanya: apakah spiritualitas yang dialami de Mello cukup relevan dengan kehidupan kita di masa kini? Bila relevan, berarti kita pun dapat mengalami kebahagiaan spiritual seperti de Mello. Sementara yang kita hadapi sekarang adalah dunia yang begitu kompleks, yang menawarkan banyak nilai.

    Banyak Jalan ke Roma
    Banyak cara utama ditawarkan untuk membuat hidup kita lebih mudah, lebih sukses, atau lebih bahagia. Ini dapat kita cermati dari banyaknya judul buku mengenai hal-hal tersebut. Pendekatannya bervariasi, dari yang menggunakan logika ekonomi, psikologis (berpikir positif, dsb), cara-cara spiritual berdasarkan agama, dsb.

    Salah satu buku yang sangat berpengaruh saat ini adalah The Secret. Buku dan DVD karya Rhonda Byrne itu menjadi best seller. Beberapa bulan lalu penulis telah menyinggungnya dalam rubrik ini, dan tanggal 9 September lalu pembaca Harian Kompas juga telah mendapatkan sajian resensinya secara lebih lengkap dari tulisan Indra Gunawan.

    The Secret memberikan daya dorong yang sangat kuat bagi banyak orang untuk mengikuti cara yang diajarkannya untuk meraih sukses. Menggunakan pendekatan koneksitas dengan alam semesta, sebenarnya Byrne dalam The Secret telah berbicara tentang spiritualitas.

    Karena mengerti akan sisi spiritualitas dalam The Secret, banyak orang spiritual yang menyetujui dan mencoba mempraktikkan apa yang diajarkan buku tersebut. Salah satu contoh, seorang rekan yang cukup produktif menulis buku-buku berisi kebijaksanaan dalam hidup, yang juga praktisi HRD di sebuah perusahaan besar, bercerita telah mempraktikkan The Secret sejak ia membaca buku tersebut.

    Namun, ada satu hal yang perlu dicatat, rekan ini sempat mengalami konflik di tengah perjalanan mempraktikkan The Secret. Ini disebabkan ia yang telah terbiasa mengembangkan spiritualitasnya dengan menghayati Allah sebagai pribadi yang dekat akhirnya merasakan kekeringan secara rohani karena praktik The Secret membuat ia merasa jauh dengan Allah.

    Apa yang dialami rekan ini ternyata juga dialami beberapa orang yang terbiasa mengembangkan spiritualitasnya dengan menghayati Allah sebagai pribadi yang dekat. Jadi, spiritualitas yang dikembangkan berdasarkan relasi dengan Yang Maha Suci nyatanya tetap dihidupi oleh orang-orang modern seperti rekan tadi.

    Nah, ada cara yang berbeda-beda dalam mengembangkan spiritualitas. Mengapa dua jenis spiritualitas ini tampak tidak sejalan? Di mana letak perbedaannya dengan spiritualitas ala The Secret? Adakah titik temu antara keduanya?
    Baiklah kita ingat lagi sekilas mengenai dua jenis spiritualitas tersebut.

    The Secret
    Apa yang dijelaskan dalam The Secret adalah sebuah ”rahasia” yang diungkapkan bagi kita untuk dapat meraih apa saja yang kita kehendaki dengan mengandalkan kekuatan pikiran. Pada prinsipnya Byrne mengungkapkan bahwa manusia adalah magnet yang sangat kuat di alam raya, dan daya magnetis itu dipancarkan melalui pikiran-pikiran.

    Pikiran merupakan energi atau getaran hidup yang memiliki frekuensi, dan menarik semua hal yang berfrekuensi sama. Bila kita berpikir positif, gelombang energi positif yang kita pancarkan akan terkoneksi dengan energi alam semesta yang memiliki getaran positif sama, yang akhirnya memungkinkan apa yang kita pikirkan terwujud. Sebaliknya, bila kita mengirimkan sinyal negatif (melalui pikiran negatif) akan terkoneksi dengan energi alam semesta yang memiliki getaran negatif yang sama, sehingga kita akan menuai keadaan negatif yang kita pikirkan.

    Dengan mengetahui rahasia hukum tarik menarik seperti itu diharapkan kita dapat meraih kesuksesan hidup dengan mengandalkan pikiran positif. Secara rinci dijelaskan, ada tiga langkah yang perlu ditempuh dalam proses mengikuti hukum tarik menarik tersebut, yaitu meminta, percaya, dan menerima.

    Langkah pertama, meminta, adalah langkah memberikan tugas kepada alam semesta. Alam semesta akan mendukung permintaan kita dengan syarat kita mengetahui dengan jelas apa yang kita minta. Bila tidak jelas karena kita tidak fokus atau mengalami pertentangan, sinyal yang terpancar campur aduk sehingga hukum tarik menarik tidak dapat bekerja dengan baik. Dalam tahap ini diperlukan proses visualisasi, yaitu membayangkan apa yang kita kehendaki hingga sejelas-jelasnya.

    Langkah kedua, percaya, berarti dalam meminta kita harus percaya dan tahu bahwa permintaan itu telah berproses menjadi kenyataan. Sebab itu kita harus bertindak, bicara, dan berpikir seakan-akan kita telah menerimanya sekarang juga.

    Keraguan dapat membatalkan proses perwujudan yang sedang berlangsung. Dengan keyakinan kuat, sepanjang proses perwujudan kehendak itu kita perlu terus-menerus bersyukur.

    Langkah terakhir, menerima, berarti bahwa setelah meminta dengan penuh kepercayaan, selanjutnya adalah menerima dengan perasaan positif. Jadi pikiran dan perasaan bergerak sejalan, saling menggenapi.
    Perasaan positif yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah perasaan cinta. Dengan demikian, pikiran yang dirasuki rasa cinta kasih akan membentuk kekuatan terbesar yang tak terkalahkan.

    Pada tahap terakhir ini, pikiran dan perasaan yang bergerak sejalan dalam arah yang positif akan mendorong kita untuk bertindak dengan penuh daya mewujudkan apa yang kita minta.

    Spiritualitas de Mello
    Spiritualitas de Mello mendasarkan diri pada relasi pribadi dengan Roh Allah. Pada tahap awal mungkin pengalaman samar-samar akan Allah itu melahirkan keinginan untuk menjadi suci seperti Allah. Pada tahap selanjutnya, bila kita terus berproses mengalami Allah, tampaknya kita akan dapat berkembang menjadi pribadi yang penuh cinta kasih.

    Dalam tingkatan yang lebih tinggi, kita mampu membebaskan diri dari berbagai kelekatan, baik yang berupa benda, orang, atau ide-ide. Kelekatan merupakan belenggu bagi kita untuk dapat mengalami Allah yang dapat hadir dalam situasi apapun, di manapun, melalui siapa pun. Dengan kebebasan kita dari kelekatan, kita akan menjadi pribadi yang makin mampu mengasihi orang lain dan benar-benar bahagia.

    Kebahagiaan yang bersifat spiritual seperti dalam diri de Mello telah menghadirkan pesan seperti yang dituliskannya “Berserahlah pada hidup saat ini dan di sini…….. lepas bebas.” Berserah dalam konteks ini tidak berarti pasif karena cinta kasih yang mendasari. Sementara cinta kasih selalu bermakna aktif: memberi, membangun, membahagiakan orang lain.

    Adakah Titik Temu?
    Meskipun dua jenis spiritualitas tersebut berbeda, tetap terdapat kesamaan, yakni mengenai cinta kasih. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya berkembang menjadi pribadi yang mampu mengasihi. Itulah sebabnya pada umumnya orang tidak menganggap dua jenis spiritualitas ini sebagai hal yang bertentangan.

    Namun, mengapa orang-orang spiritual yang mengandalkan relasi pribadi dengan Allah dapat mengalami konflik saat mempraktikkan The Secret? Apakah pada dasarnya dua hal ini bertentangan?

    Jawabannya ”tidak bertentangan”. Namun, diperlukan langkah untuk menyelaraskan dua jenis spiritualitas itu, bila seseorang menjalani keduanya.
    Yang perlu diselaraskan adalah adanya kesenjangan bahwa The Secret berbicara mengenai koneksitas (keterhubungan) antara individu dengan alam semesta, dan sama sekali tidak menyinggung soal relasi individu dengan Allah (pribadi yang transenden).

    Sementara relasi individu dengan pribadi Allah yang transenden ini dalam spiritualitas de Mello menjadi kekuatan utama agar individu mencapai perkembangan pribadi.

    Dapatkah diselaraskan? Jawabannya ”ya”. Mereka yang sempat mengalami konflik, dengan cepat akhirnya menemukan bahwa di balik The Secret masih terdapat rahasia lain. Rahasia tersebut bahwa energi alam semesta tidak lain merupakan perwujudan energi Allah sendiri, Sang Pencipta.

    Pada dasarnya rahasia koneksitas (keterhubungan) antara individu dengan alam semesta seperti yang dijelaskan The Secret merupakan penjabaran materialistik (energi adalah materi) yang sangat masuk akal tentang koneksi antara manusia, alam semesta, dan Allah. Hal ini justru menjelaskan mengapa orang yang imannya akan Allah sangat kuat doanya (permintaannya) mudah terkabul (terwujud).

    Mengapa mempraktikkan The Secret saja (tanpa menghayati bahwa energi alam semesta adalah perwujudan energi Allah) dapat mengasilkan kekeringan rohani? Cukup jelas, bahwa kepenuhan rohani (spiritualitas) lebih dimungkinkan berkembang dalam relasi yang bersifat personal (dengan Allah yang transenden); bukan dengan alam semesta yang cenderung dihayati sebagai materi. Pasalnya, dalam relasi yang bersifat personal semacam itu terdapat afeksi, terdapat kehangatan yang menimbulkan rasa kepenuhan.

    Nah, bila demikian berarti spiritualitas ala de Mello yang mengandalkan relasi pribadi dengan Allah tetap relevan untuk masa kini. Yang penting adalah adanya hubungan afektif antara kita pribadi dengan pribadi Allah (meski Ia adalah Yang Maha Tinggi).

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 7:11 pm