Selamat Datang di chit2chat. ayo chit chat bareng buat namabah wawasan dan pengetahuan juga teman-teman yang asik. AYO buruan DAFTAR!!!Enjoy the Chiting...


    Tanggung Jawab Tuhan

    Share

    mimin
    Admin

    Jumlah posting : 88
    Join date : 16.07.09
    Age : 27
    Lokasi : Medan

    Tanggung Jawab Tuhan

    Post  mimin on Mon Jul 27, 2009 5:58 am

    Bila menengok ke dalam teks-teks kitab suci, khususnya dalam agama-agama samawi, tampaknya benar ada saat-saat Tuhan menghukum manusia, misalnya dalam peristiwa air bah pada zaman Nabi Nuh.

    Dengan pemahaman religius seperti itu terhadap terjadinya bencana, mestinya banyak orang yang kemudian terdorong untuk melakukan refleksi pribadi dan pertobatan. Alangkah baiknya!

    Namun, kenyataannya tidak mudah bagi seseorang untuk menyadari kaitan antara dosa pribadi dengan bencana yang terjadi. Tidak mudah untuk memahami, bagaimana dosa pribadi (perorangan) dapat mengakibatkan bencana yang begitu banyak menelan korban. Apalagi bila orang yang bersangkutan tidak ikut menjadi korban.

    Jika dipahami sebagai akibat dosa bersama (kolektif), siapakah yang termasuk di dalamnya? Mungkin para pejabat yang korup, juga para pengusaha yang serakah? Ataukah para politisi yang hanya sibuk mementingkan diri sendiri? Para pejabat pemerintah di bawah pimpinan presiden?

    Banyak orang dengan mudah menilai demikian. Termasuk tokoh-tokoh yang pernah berkuasa, seolah-olah dirinya bersih, dengan mudah menunjuk pemerintah sekarang sebagai penyebab Tuhan marah.

    Tiap orang dapat menunjuk kelompok tertentu, tetapi tidak melihat pada diri sendiri. Peribahasa mengatakan: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

    Akhirnya yang tersisa dalam benak kita hanyalah kesan bahwa bencana terjadi karena kehendak Tuhan. Nah, Tuhan yang bertanggung jawab atas berbagai bencana.

    Tanggung Jawab Tuhan?
    Benarkah Tuhan yang bertanggung jawab atas semua bencana yang menimpa manusia? Bila demikian sungguh Tuhan itu tidak adil, bahwa bencana itu ditimpakan pada orang-orang tanpa pandang bulu. Orang baik, orang jahat, orang sederhana, orang serakah, orang miskin, kaya, dst, sama-sama dapat menjadi sasaran hukuman Tuhan.

    Bahkan, begitu banyaknya orang sederhana yang menjadi korban. Akibatnya, kita yang hanya menjadi penonton pun mengeluh, “Kenapa bukan para pejabat yang korup atau pengusaha yang serakah itu yang terkena bencana?”
    Para korban tsunami di NAD dan gempa bumi di DIY sebagian mengalami depresi dengan menyalahkan Tuhan. Nah lo, bukankah sebenarnya Tuhan telah menjadi kambing hitam?

    Bertanya mengenai bencana tanggung jawab siapa, kita berpikir mengenai penyebab. Hal ini memerlukan logika.
    Menunjuk Tuhan sebagai penyebab bukanlah hal yang logis. Hal ini akan berbenturan dengan keyakinan umat beriman bahwa Tuhan itu Maha Adil.

    Pertanyaan “Kenapa bukan para pejabat yang korup atau pengusaha yang serakah yang terkena bencana?” yang diucapkan oleh orang-orang sederhana, tampak justru mengandung logika yang lebih dapat diterima.

    Pertanyaan itu dapat muncul melihat kenyataan bahwa kerusakan alam (terkait dengan bencana alam) maupun bencana teknologi disebabkan pengambilan keputusan yang salah oleh pemerintah yang berkolusi dengan para pengusaha yang serakah.

    Bukankah itu telah sama-sama dirasakan oleh rakyat, sampai-sampai pemerintah Orba yang telah bercokol selama 32 tahun ditumbangkan? Hal itu telah terjadi hampir 10 tahun lalu. Namun, persoalannya terus berkembang hingga kini karena belum satu periode pemerintahan pun yang berhasil mengatasi kerusakan moral yang telah begitu parah.

    Lalu, kita sebagai masyarakat awam apakah dapat bebas dari kemungkinan ikut menjadi penyebab terjadinya bencana-bencana? Kalau kita merasa bahwa kesalahan hanya melulu milik pejabat dan pengusaha, berarti kita tidak merasa sebagai bagian dari penyebab bencana-bencana itu. Benarkah kita tidak ambil bagian di dalamnya?

    Bagaimana bisnis pengusaha yang serakah itu berjalan? Dapatkah mereka bekerja sendiri menebang hutan hingga gundul? Produk-produk kayu yang dihasilkan, bagaimana itu dapat menjadi uang? Tentu karena ada pembeli.

    Siapakah yang membeli?
    Tidak senangkah kita bila ada jasa penerbangan ditawarkan dengan harga murah? Pedulikah kita bahwa harga tiket murah itu ternyata karena mereka menekan pengeluaran untuk servis pesawat?

    Bagaimana dengan banjir di Jakarta? Bagaimana mal-mal dapat berdiri tegak di atas tanah bekas situ atau tanah resapan? Dapatkah itu berdiri kalau terdapat penolakan dari masyarakat? Bukankah kita justru senang bila semakin banyak mal yang menjual produk-produk modern yang membuat lapar mata kita?

    Bukankah sungai-sungai makin menyempit karena banyak orang yang nekat tinggal di bantaran sungai? Sungai-sungai penuh sampah. Siapa yang membuang sampah ke sana?

    Sense of Control
    Bencana sering diterima sebagai suratan takdir. Dengan menunjuk Tuhan sebagai penyebab bencana, kita kurang melihat bahwa kita memiliki andil dalam kejadian-kejadian tersebut. Padahal, secara nalar sebenarnya kita dapat menelaah bahwa sebagian dari bencana tersebut terjadi karena kita ambil bagian di dalamnya.

    Kita kurang peduli pada keselamatan kita sendiri; kurang peduli mengenai ekosistem yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia bersama seluruh isi alam; kurang peduli bahwa kehidupan sekarang ditentukan oleh sepak terjang kita di masa lampau, dan kehidupan yang akan datang ditentukan oleh sepak terjang kita saat ini.

    Hal itu berarti kita kurang melihat antara apa yang kita lakukan dengan akibatnya pada masa yang akan datang, bagi kita sendiri maupun bagi orang lain. Kita terbiasa menganggap bahwa apa yang terjadi (baik atau buruk, kegembiraan atau bencana) merupakan nasib atau takdir yang tak dapat dihindari dari Tuhan.

    Perasaan atau keyakinan tentang penentu berbagai peristiwa dalam hidup, disebut sense of control. Sense of control dapat menunjuk pada sisi internal atau eksternal, sehingga akhirnya oleh Rotter (1966) disebut locus of control.

    Kecenderungan kita untuk meyakini bahwa apa yang terjadi atau apa yang diperoleh dalam hidup merupakan nasib, takdir, atau keberuntungan, disebut locus of control eksternal. Sebaliknya, keyakinan bahwa apa yang terjadi atau apa yang diperoleh dalam hidup lebih ditentukan oleh diri sendiri, disebut locus of control internal.

    Melihat kecenderungan kita yang lebih sering menunjuk faktor takdir dalam memahami terjadinya bencana, tampaknya kita memiliki tipe locus of control eksternal. Seperti kita lihat, kecenderungan locus of control eksternal dalam menghadapi bencana, cenderung membuat kita tidak merasa bertanggung jawab atas terjadinya bencana-bencana itu.

    Hal ini sangat berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang sangat antisipatif dalam menghadapi bencana karena mereka menyadari bahwa bencana terjadi lebih karena ulah manusia. @

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 7:13 pm